Mau Investasi Saham? Kenali Dulu Saham Gorengan Supaya Nggak Boncos

  • Author
    Leo
  • Posted on
    Apr 15, 2021 06:53 am
  • Readed
    77 Views
Kenali Saham Gorengan

Hello, neupeeps

Beberapa waktu belakangan ini, kaum milenial mulai lirik-lirik investasi pasar saham. Namun, kalau nggak hati-hati justru bisa boncos alias rugi dibanding cuan, loh. Kok Bisa? Yup, karena kamu terjebak membeli saham yang lagi digoreng atau saham gorengan.

Usut punya usut, istilah ini sebenarnya sudah ada sejak lama, neupeeps. Tapi semakin populer ketika kasus Jiwasraya terungkap ke publik pada pertengahan 2019 lalu. Bahkan, Presiden Joko Widodo juga sempat menegaskan supaya nggak ada lagi praktik gorengan saham di pasar modal Indonesia, seperti dikutip dari Kompas. 

Kepo sama saham gorengan dan ingin tau lebih lanjut kenapa kehadirannya banyak dikhawatirkan para investor? Simak terus artikel berikut ini ya, neupeeps

Baca: Mau Investasi Saham? Kenalan Dulu Sama Saham Blue Chip, Yuk!

Apa Sih Saham Gorengan? 

Saham gorengan adalah saham yang harganya naik turun lantaran direkayasa oknum tertentu demi mendapatkan keuntungan jangka pendek. Saham ini kualitasnya buruk bahkan berisiko merugikan para investornya, neupeeps. Soalnya, ada oknum—bisa dibilang bandar—yang sengaja memainkan pergerakan saham seolah-olah emiten tersebut memiliki fundamental yang bagus.  

Saham gorengan umumnya merupakan saham lapis kedua atau ketiga karena jumlah pemegangnya sedikit dan kapitalisasi pasarnya juga nggak begitu besar. Menurut Investor Daily, sebenarnya kegiatan penggorengan saham juga bisa dilakukan pada saham-saham lapis pertama. Namun, hal tersebut jarang terjadi.

Gimana Cara Kerja Saham Gorengan? 

Cara kerjanya saham gorengan ini sederhana banget. Bandar akan menebar hoax yang berkaitan dengan kinerja perusahaan tertentu, lalu mereka akan membuat target pembelian saham palsu agar terkesan banyak investor tertarik dengan saham tersebut. Hasilnya, harga saham tersebut akan terlihat tinggi dan banyak investor mulai melirik saham tersebut.

Ketika banyak investor mulai tertarik dengan saham tersebut, bandar akan segera menjualnya dengan harga lebih tinggi. Setelah dijual bandar, saham tersebut nggak lagi likuid sedangkan investor sudah terlanjur masuk dalam investasi saham tersebut. Akhirnya boncos, deh!

Baca: Jangan Sampai Tertipu, Trik Jitu Hindari Investasi Bodong

Ciri-Ciri Saham Gorengan

Masuk Daftar Unusual Market Activity

Bursa Efek Indonesia (BEI) biasanya bisa melihat adanya potensi saham gorengan. Jika BEI melihat adanya perubahan harga yang signifikan pada suatu saham, BEI akan memasukkannya ke dalam daftar Unusual Market Activity (UMA), tapi nggak semua saham yang ada di daftar UMA termasuk saham gorengan. UMA ini ibarat sebuah peringatan pada investor agar berhati-hati dengan saham-saham tersebut~

Volume dan Nilai Transaksi Harian Tidak Wajar

Biasanya volume dan nilai transaksi harian saham lapis kedua dan ketiga lebih rendah daripada saham lapis pertama. Makanya, ketika kedua hal ini lebih tinggi daripada saham lapis pertama, kamu perlu mencurigainya. Bisa saja saham tersebut sedang digoreng oleh bandar, neupeeps~

Another tips: lihat bid dan offer saham tersebut. Bid adalah antrean beli saham di harga rendah, sedangkan offer adalah antrean jual saham di harga tinggi. Biasanya transaksi saham gorengan ada dalam jumlah besar. Namun, posisi bid dan offer-nya tipis! 

Kinerja Keuangan dan Kenaikan Harga Tidak Sejalan

Ciri ketiga dari saham gorengan adalah kinerja keuangan perusahaan dengan kenaikan harga saham nggak sesuai. Contoh, kinerja keuangan perusahaan turun lebih dari 50%, tetapi harga sahamnya justru naik. Seharusnya, kinerja perusahaan juga sejalan dengan harga saham saat itu.

Baca: Cermati Hal Ini Sebelum Investasi

Kesimpulannya, saham gorengan adalah saham yang volume dan nilai transaksi hariannya nggak wajar. Bagi kamu yang sudah mulai berinvestasi saham, sebaiknya kamu hati-hati dengan saham gorengan ya, neupeeps!

Daripada kena rekayasa saham gorengan, mending kamu taruh uang yang nganggur untuk pendanaan di salah satu fitur unggulan aplikasi keuangan neu, neuGrow. Dijamin aman dan imbal hasilnya menarik hingga 25%, loh. Dengan melakukan pendanaan, kamu juga ikut berkontribusi untuk memajukan UMKM Indonesia.

Jadi, langsung aja yuk download aplikasinya di Google Play atau App Store!


Tentang Aplikasi Transfer Gratis dan Budgeting Neu

Aplikasi Keuangan neu

neu adalah aplikasi keuangan yang membantu kamu mengelola keuangan kamu mulai dari transfer gratis, bayar tagihan, beli emas, pendanaan P2P dan lacak semua pengeluaran dan pemasukan kamu. 

Transfer Gratis Antar Bank

Kamu bisa transfer gratis ke semua bank di Indonesia tanpa biaya admin hingga 25 Juta per hari. Bisa buat kirim ke rekening kamu yang lain untuk menyimpan dana darurat kamu di bank lain, transfer gratis ke keluarga dengan beda bank, bayar online shop yang hanya terima bank tertentu dan lain-lain. Hanya bisa di neuTransfer!

Lacak Pengeluaran Uang

Kamu juga bisa mengatur keuangan kamu dengan neuBudget. neuBudget membantu kamu mencatat pengeluaran e-wallet dan bank kamu. Sehingga kamu tahu persis uangnya keluar kemana saja dan bisa membantu kamu membagi prioritas keuangan kamu.

Nabung Emas

Kamu bisa beli, jual dan memberikan hadiah emas ke teman kamu. Nabung emas di neuGold bisa menjadi solusi untuk memulai investasi untuk masa depan. neuGold berkerja sama dengan IndoGold sebagai penyedia layanan jual beli emas.

Pendanaan P2P Lending

Kamu bisa mulai pendanaan dengan mendapatkan imbal hasil menarik hanya dengan Rp 25.000 di neuGrow. neuGrow bekerja sama dengan Modal Rakyat, platform p2p yang sudah terdaftar dan diawasi oleh OJK.

Kode Referal

Kamu bisa mendapatkan saldo sebesar Rp20.000,00 jika membagikan kode referal yang dimiliki ke user lain. User tersebut juga akan menerima saldo jika Verifikasi Datanya berhasil. Saldo akan diterima dalam bentuk neuPoints.

Yuk download neu sekarang di App Store dan Play Store di sini.

Follow our Instagram @helloneu.id here.

  • Share

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *