• Share

Puasa Bikin Irit atau Boros?

  • Author
    Umar
  • Posted on
    Apr 27, 2020 10:47 am
  • Readed
    123 Views
Happy fasting, and happy saving!

Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa kita sudah berjumpa lagi di bulan ramadan. Akan tetapi, puasa kali ini sangat berbeda.

Meski selama sebulan, pengeluaran makan memang bisa berkurang karena berpuasa. Tapi belum tentu pengeluaran juga pasti berkurang loh. Selama sebulan penuh, puasa mengubah gaya hidup seseorang yang menjalankannya. Itulah sebabnya, jadi hadir fenomena antara berpuasa yang irit dan boros.

Eits, sebelumnya apa itu puasa irit dan puasa boros? Nah. sebelum semakin membingungkan, seperti biasa kita sama-sama obrolin dulu ya dari basic.

Memahami Puasa 

Puasa merupakan translasi dari bahasa arab yakni, Shaum.

Shaum secara bahasa artinya menahan atau mencegah.

Puasa (shaum) bagi umat muslim adalah menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari yang tujuannya adalah meningkatkan ketakwaan seorang muslim. Berpuasa (saum) merupakan salah satu dari lima Rukun Islam.

Dalam menjalankan ibadah puasa, ada beberapa syarat wajib dan syarat syah yang harus diperhatikan menurut syariat Islam yaitu Beragama Islam, Berakal sehat, Baligh (sudah cukup umur), dan Mampu melaksanakannya.

Nah, sampai sini sudah dapat ya esensi penting dari ibadah puasa. Balik lagi ke fenomena puasa irit dan boros. 

Fenomena Bulan Ramadan 

Sebelum kita diserang pandemi seperti sekarang, bulan suci Ramadan yang sering disalahmaknakan nih oleh kehidupan modern. Walaupun bermakna kemenangan, tapi dalam ibadah puasa seringkali menjadi ajang foya-foya. Mulai dari buka puasa dengan menu unggulan di restoran elit untuk berbuka puasa, lalu pesan baju jahitan untuk hari raya, yang perempuan jadi sering ke salon terus, dan banyak lagi. Kebayang yah?

Kalau kita fokus ke makanan dan gaya hidup saja, dan bukan ibadah. Pasti anggaran akan bengkak. Sebaliknya kalau fokus puasa adalah untuk ibadah, maka bukan hanya menjadi semakin religius, tetapi anggarannya pun semakin hemat. Alhasil tabungan pun semakin banyak untuk persiapan lebaran maupun mudik.

Jadi, kebayang yah konsep dari fenomena puasa irit dan boros? Tapi sekarang, di masa pandemi hal itu mungkin jadi kurang relevan. Karena tidak bisa buka puasa bersama di luar, karena harus physical distancing dan aturan lainnya. 

Di balik pandemi ini, mari kita memaksimalkan peluang baik dari sisi finansial agar pengeluaran bisa terkendali dengan baik!

1. Perubahan Kebiasaan

Dengan segala uncertainty di sekitar kita, maka bulan Ramadan tahun ini akan menjadi sebuah hari raya yang sederhana namun bisa sangat berarti. Karena tidak kumpul buka puasa bersama, jadi bisa kita rencanakan nih, apa saja yang akan kita lakukan dan butuhkan untuk bulan Ramadan tahun ini. 

2. Anggaran Ramadan

Jangan bosan ya dengan hal ini, tapi ini benar banget! Lagi-lagi, susun anggaran pengeluaran wajib dan juga kebutuhan kamu. Misal, jika kamu merasa wajib dan terpanggil dalam zakat yang lebih besar ataupun, donasi tertentu untuk yang membutuhkan. Tentunya sah banget, tapi perlu dicatat ke dalam anggaran. 

Kemudian, atur anggaran untuk konsumsi selama bulan Ramadan. Menu berbuka, menu sahur dan juga panganan yang dibutuhkan selama window feeding time. Perlu diingat juga, sekarang bukan saatnya menimbun bahan makanan berlebihan. Cukup anggarkan makanan sesuai kebutuhan tubuh. 

Sebagai referensi saja, mungkin kita akan banyak salam-salam rindu karena tidak bisa bertemu secara fisik dengan teman dan sanak saudara. Kalau perlu kuota internet tambahan, jangan lupa dicatat juga ya ke anggaran. 

3. Cek Anggaran Setiap Minggu, Bahkan Hari 

Ketika anggaran makanan menu berbuka dan sahur sudah jadi, tetap harus diaudit yang realisasinya lewat catatan keuangan harian.

Catatan ini berisikan uang yang masuk dan keluar baik dari rekening dan dompet. Kalau lupa, bisa cek aplikasi dari tempat kalian memesan makanan atau juga e-receipt di struk. Usahakan sedetail mungkin ya dari setiap pengeluaran yang dikeluarkan. 

Fungsinya sebagai rem ketika sudah mulai kalap atau berbelanja di luar anggaran. dengan mencatat juga, kita akan semakin disiplin dalam mengeluarkan uang untuk belanja. Jadi keuangan semakin mudah terkontrol. Selain itu, jadi tahu juga deh mana pengeluaran yang bisa dihemat atau pengeluaran yang seharusnya ditambah.

Baca: Belajar Kakeibo, Seni Menyimpan Uang dari Jepang

Dana Tambahan 

Untuk yang belum berhasil saat membuat anggaran untuk memilah hal yang bisa dihemat, maka bisa mengambil dari Dana Darurat. Tapi, begitu menerima Tunjangan Hari Raya (THR) yang kemarin diambil untuk keperluan ramadhan harus segera dikembalikan ke pos Dana Darurat. 

Selain dari dana darurat, sebenarnya kita juga punya peluang banget untuk menambah pundi-pundi keuangan loh. Misalnya, berjualan menu makanan khas bulan Ramadan dengan sistem pre-order. Seperti jualan risol, lemper, biji salak, dan macam-macam lagi. Bisa banget nih berkembang jadi bisnis. 

Sekian dari kami seputar bulan ramadhan di pandemi kali ini. Selamat menunaikan ibadah puasa ya untuk teman-teman yang menjalankan. Semoga Ramadan kali ini, menjadi berkah untuk kita semua.

Jangan lupa download aplikasi neu di Google Play Store ya!

  • Share

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *